Pagi itu kamu berjalan dengan gagah mengenakan pakaian serba putih, dengan senyum terlihat gugup dan lisan yang tak berhenti berdoa sedang aku yang tak berani menatapmu, hanya mampu tertunduk malu dengan hati yang tak henti bertasbih.

Ahad dini hari, alarm berbunyi membangunkan ku dari tidur ku yang sama sekali tidak tenang. jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, dan seolah waktu berhenti berputar saat diri ini duduk di balik tabir menanti kata SAH terdengar

Yaaa, hari itu adalah hari pernikahanku. hari yang telah lama ku nanti, hari dimana penantian panjangku berakhir. hari dimana laki-laki yang namanya tak pernah absen dalam doa-doaku mengambil alih tanggung jawab atas aku dari waliku

dan sejak saat itu pula pemikiranku tentang cinta terbuka, karena ternyata cinta yang murni bukanlah cinta yang ada saat pacaran tapi cinta yang murni adalah cinta yang ada setelah pernikahan

karena semakin dewasa aku semakin tau, bahwa cinta yang murni adalah cinta yang mampu untuk saling menerima, cinta yang selalu bisa memaafkan dan cinta yang senantiasa memuliakan.

Bangun Cinta begitulah aku menyebutnya, membangun komitmen menjadi sebuah kepercayaan dan meyakinkan untuk terus bersama dalam suka maupun duka

Bangun Cinta memaknai setiap rasa dengan syukur pada yang kuasa, menikmati setiap kekurangan untuk bisa saling menyempurnakan

dan Indahnya Bangun Cinta ada saat aku berhasil menangkap sinyal kehadiranmu dengan sebuah keyakinan bahwa kamu yang tercipta hanya untukku ^^

 

Bagiku cinta adalah kekuatan, dia hadir untuk menghangatkan juga menenangkan sedangkan Bangun Cinta ada untuk saling menguatkan dan menghangatkan dari rapuhnya rasa sakit dan dinginnya cuaca hari ini 🙂

 

#30dwcJilid10 #day4 #pejuangdwc

 

Nita Lisnawati Siregar

29 November 2017

 

Advertisements