hari itu ketika langit sore begitu menyejukkan mata dan semilir angin berhembus begitu menentramkan, kala detakkan jantung berirama sangat cepat dari biasanya kau genggam jemari tanganku dengan senyum di wajah teduhmu.

3 bulan lalu saat pertama kali ku injakkan kaki ini di istanamu, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, keringat dingin mengalir begitu deras dan lidah ini seketika kelu hanya untuk sekedar mengucapkan sapaan. aah yaa mungkin aku terlalu tegang saat itu, tegang karena akan bertemu dengan mu, cinta pertama putra sulungmu.

pertemuan kedua pun aku masih saja terdiam, kala dalam tulisan aku lancar berkata namun saat ada di hadapanmu aku hanya bisa berdoa. berdoa agar kau mau menerimaku menjadi penyempurna agama putra sulungmu.

.

.

tak ada kata yang bisa terucap saat hari yang ku nanti itu tiba selain rasa syukur, rasa syukur karena Mama mau mengantarkannya untuk mengetuk pintu rumahku, mengutarakan niat baik itu kepada keluarga besarku khususnya kepada Ibuku tercinta

.

.

tak ada cerita hari ini jika tak ada restu darimu

tak ada bahagia seperti saat ini jika tak ada izin darimu

dan tak akan ada proses selanjutnya tanpa ridho darimu

.

.

.

Ma, ajari aku cara membuatnya bahagia, seperti kau selalu membuatnya bahagia sedari dia kecil

Ma, ajari aku cara menjaganya, seperti kau menjaganya hingga dia dewasa

Ma, ajari aku cara merawat sebuah komitmen, cara menjaga sebuah kepercayaan dan cara agar kami senantiasa saling menenangkan juga menyejukkan hati.

.

.

Ma, sejujurnya aku tak pernah menyangka akan bisa melangkah sampai ke titik ini bersama putra sulungmu meski aku tau kisah itu belum di mulai

Ma, sejujurnya aku tak pernah menyangka akan menyimpan rasa pada putra sulungmu. aaah bermimpi mengenalnya saja tidak

dan sejujurnya aku tak pernah mengira bahwa ceritanya akan seindah ini

.

.

.

Ma, aku mohon izin untuk menjadi bagian dari keluarga mu suatu hari nanti

aku mohon izin untuk mencintai anakmu dan membersamainya hingga ke syurga

dan aku mohon izin untuk memuliakanmu sama seperti aku memuliakan Ibuku 🙂
 

.

.

Ma, ini rangkaian kata yang bisa aku tulis. maafkan lidah ini yang kelu jika harus berucap, biarkan tulisan ini bercerita tentang bahagiaku dan biarkan doa-doa ku kepada Illahi sebagai tanda betapa aku mencintaimu karena Rabbku❤

.

.

ini rangkaian kataku, ungkapan rasa dalam dada yang membuncah setiap harinya bukan karena aku mau tapi karena rasa itu ada atas ridhoNya. Terimakasih, karena telah melahirkan seorang putra yang kini ada dan sedang mempersiapkan hari bahagia bersamaku. Doamu adalah pintu gerbang untuk kelancaran langkah kaki kami ❤
.

.

.

dari aku, seseorang yang kelak akan menemani hari-hari putra sulungmu

Nita Lisnawati

23 Januari 2017

Advertisements